Belitung

BELITUNG

Belitung adalah sebuah pulau di lepas pantai timur Sumatera, Indonesia, diapit oleh Selat Gaspar dan Selat Karimata. Pulau ini terkenal dengan lada putih yang dalam bahasa setempat disebut sahang, dan bahan tambang tipe galian-C seperti timah putih, pasir kuarsa, tanah liat putih, dan granit. Serta akhir-akhir ini menjadi tujuan wisata alam alternatif. Kota utamanya adalah Tanjung Pandan.

CARA KESANA

Pesawat Terbang

Jika Anda berasal dari luar Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, untuk menuju Pulau Belitung, Anda sebaiknya menempuh jalur udara dengan pesawat. Maskapai yang membuka rute penerbangan khususnya Jakarta-Tanjung Pandan antara lain adalah Sriwijaya Air dan Lion Air. Maskapai Sriwijaya Air melayani penerbangan dari Jakarta menuju Tanjung Pandan sebanyak empat kali dalam satuh hari. Harga tiket penerbangan menuju Tanjung Pandan Pulau Belitung berkisar mulai dari Rp350.000.

Selain dari Jakarta, untuk menuju pulau ini anda bisa juga melalui Kota Denpasar, Palembang, Yogyakarta, Semarang, dan Medan. Penerbangan menuju pulau ini, khususnya dari Jakarta, ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam. Pesawat yang Anda tumpangi akan mendarat di Bandara H.A.S. Hanandjoeddin, Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung.

Kapal Ferry

Kebanyakan wisatawan dari Sumatera Selatan, kadang memilih jalur laut untuk menuju pulau ini. Mereka menyebrang dari Palembang menuju Pangkal Pinang Pulau Bangka, dilanjut perjalanan ke Tanjung Pandan Pulau Belitung.

 

WAKTU TERBAIK UNTUK BERKUNJUNG

Waktu terbaik berkunjung ke pulau ini adalah pada pertengahan tahun pada musim kemarau yaitu bulan juli – september. Suasana yang panas dan terik sangat cocok untuk melihat pemandangan pantai tropis nan eksotis.

 

BAHASA LOKAL

Bahasa yang digunakan di Belitung adalah bahasa Melayu. Hal ini terkait juga dengan latar belakang sejarah pulau ini yang merupakan salah satu wilayah bermukim bangsa Melayu saat terjadi migrasi. Oleh karena itu, bahasa Melayu berkembang pesat di pulau ini dan saat ini menjadi bahasa daerah yang digunakan oleh masyarakat setempat.

Seiring berjalannya waktu, pulau ini didiami tidak hanya oleh masyarakat asli setempat, melainkan banyak juga pendatang yang berasal dari suku lainnya yang kemudian menetap di pulau ini. Sebagian besar pendatang adalah masyarakat bersuku Jawa dan Tionghoa. Dengan adanya keanekaragaman ini, bahasa Jawa dan bahasa Mandarin pun turut digunakan oleh masyarakat untuk berkomunikasi.